Kamis, 25 November 2010

Manusia dan Tanggung Jawab

                                    MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB

Kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang di sengaja maupun tidak disengaja merupakan pengertian dari tanggung jawab itu sendiri. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban. Dalam melakukan segala perbuatan atau tindakan, seseorang haruslah dapat mempertanggungjawabkannya. Rasa tanggung jawab tersebut hendaknya telah tertanam sejak manusia dilahirkan agar setiap perbuatan maupun tindakan pada akhirnya dapat dipertanggungjawabkan oleh manusia yang berbuat itu sendiri.

Timbulnya tanggung jawab itu karena manusia hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam. Manusia adalah makhluk sosial yang hidup bermasyarakat untuk itu manusia memiliki peran penting dalam menciptakan keseimbangan, keserasian, keselarasan antara sesama manusia dan lingkungannya. Tanggung jawab selalu berkaitan dengan segala perbuatan dan tindakan setiap manusia yang melakukannya itu sendiri.

Tetapi tidak semua manusia dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya, melainkan terkadang lari dari tanggung jawabnya. Hal itulah yang dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya. Dalam menjalankan tanggung jawabnya, setiap manusia dapat melakukannya dengan berbagai hal, misalnya dengan perbuatan, perkataan, maupun kepedulian terhadap seseorang yang membutuhkan tanggung jawab tersebut.

Tanggung jawab bersifat kodrati yang berarti telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dengan hal tersebut setiap manusia pasti akan dibebani dengan tanggung jawab. Tanggung jawab itu sendiri merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap manusia sebagai akibat dari perbuatan yang telah diperbuatnya. Dan dapat pula  sebagai akibat dari perbuatan pihak lain atau sebagai pengabdian dan pengorbanan pihak lain.

Ciri manusia beradab (berbudaya) adalah manusia yang dapat mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Manusia yang memiliki rasa tanggung jawab adalah manusia yang menyadari akibat baik ataupun buruk perbuatannya. Serta menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengorbanan atau pengabdian. Melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan serta takwa kepada Tuhan, manusia dapat menigkatkan kesadaran akan tanggung jawabnya.

Manusia berjuang semata-mata untuk memenuhi keperluan hidupnya atau keperluan pihak lain. Dalam usahanya itu, manusia menyadari bahwa ada kekuatan lain yang ikut menentukan yaitu kekuasaan Tuhan. Oleh karena itu tanggung jawab harus dimiliki oleh setiap manusia agar mereka menyadari bahwa apapun yang mereka lakukan memerlukan tanggung jawab. Seseorang yang memiliki rasa tanggung jawab yang besar merupakan seseorang yang selalu memikirkan pertanggung jawabannya akan segala tindakan yang diperbuatnya agar tidak merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.


Sumber: arisudaryanto.blogspot.com

Manusia dan Pandangan Hidup

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
A. Pengertian Pandangan Hidup
Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Dan pandangan hidup itu sendiri bersifat kodrati, karena itu pandangan hidup tersebut dapat menentukan masa depan seseorang.   Pandangan hidup merupakan pendapat atau pertimbangan yang dapat dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.

Pandangan hidup berdasarkan asalnya terdiri dari tiga macam, meliputi:
1. Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
2. Pandangan hidup yang berupa ideology yaitu yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut.
3. Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

B. Cita-cita
Cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran, pengertian tersebut menurut kamus umum Bahasa Indonesia. Yang kesemuanya itu merupakan apa yang ingin diperoleh seseorang di masa yang akan datang. Jika cita-cita belum dapat tercapai, maka cita-cita tersebut hanyalah sebuah angan-angan yang belum dapat kita penuhi dengan baik. Kehidupan yang kita alami saat ini memiliki jarak dan waktu dengan cita-cita di masa yang akan datang.
Dalam mencapai suatu cita-cita, hal tersebut tergantung kepada tiga faktor yang melatarbelakanginya yang meliputi: faktor manusia, faktor kondisi, serta faktor tingginya cita-cita tersebut.
C. Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan merupakan perbuatan yang mendatangkan kebaikan. Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, serta makhluk bermoral.
Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan.
Manusia merupakan mahluk sosial yaitu makhluk yang hidup bermasyarakat, manusia saling membutuhkan, saling menolong, saling menghargai sesama anggota masyarakat.
Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membenci, saling merugikan, dan sebagainya.
Sebagai mahluk pribadi, manusia dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Baik buruknya setiap manusia ditentukan oleh suara hati. Suara hati adalah semacam bisikan di dalam hati yang mendesak seseorang, untuk mempertimbangkan dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan, tindakan atau tingkah laku.

Ada beberapa faktor-faktor yang dapat menentukan tingkah laku setiap individu, diantaranya:
1. Faktor pembawaan (hereditas) yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan.
2. Faktor lingkungan (environment).
3. Faktor pengalaman yang khas yang pernah diperoleh manusia itu sendiri.

D. Usaha/Perjuangan
Kerja keras untuk mewujudkan cita-cita merupakan suatu usaha dan perjuangan. Sebagian hidup manusia adalah usaha dan perjuangan. Tanpa kedua hal tersebut, manusia tidak dapat hidup sempurna. Dalam mewujudkan sesuatu yang kita inginkan hendaknya kita bekerja keras dengan menggunakan otak/ilmu, maupun dengan tenaga/jasmani. Bahkan juga dapat dilakukan dengan kedua-duanya. Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan. Karena kemampuan terbatas, itulah sebabnya timbul perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dengan manusia lainnya.
E. Keyakinan/Kepercayaan
Keyakinan/kepercayaan berasal dari akal atau kekuaasaan Tuhan. Menurut Prof.Dr.Harun Nasution, ada tiga aliran filsafat, yaitu sebagai berikut:
1. Aliran Naturalisme. Hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi.
2. Aliran Intelektualisme. Dasar aliran ini adalah logika / akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia dapat berpikir.
3. Aliran Gabungan. Dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga akal. kekuatan gaib yaitu  kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan.

F. Langkah-Langkah Berpandangan Hidup Yang Baik
Setiap manusia memiliki pandangan hidupnya masing-masing. Dalam memperoleh dan memperlakukan pandangan hidup, tergantung kepada manusia yang menjalankannya itu sendiri.
Ada yang memperlakukan pandangan hidup itu sebagai sarana mencapai tujuan dan ada pula yang memperlakukan sebagai penimbul kesejahteraan, ketentraman dan sebagainya.
Adapun langkah-langkah sarana dalam mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik dalam pandangan hidup meliputi: mengenal, mengerti, menghayati, meyakini, serta mengabdi. Dengan demikian hendaknya setiap manusia dapat memperlakukan pandangan hidupnya dengan sebaik mungkin agar kehidupan yang dijalaninya memperoleh kesejahteraan hidup.


Sumber: irfanrahman.wordpress.com

Manusia dan Keadilan

MANUSIA DAN KEADILAN
Dalam kehidupannya setiap manusia dalam melakukan berbagai aktivitas atau kegiatannya pasti pernah mendapatkan perlakuan yang tidak adil atau bahkan sebaliknya, melakukan hal yang tidak adil. Setiap diri manusia itu sendiri memiliki dorongan atau keinginan untuk berbuat kebaikan atau kejujuran.
Namun dalam melakukan kejujuran tersebut tidaklah mudah dan selalu dibenturkan oleh permasalahan-permasalahan dan sering kali mengalami kendala yang dihadapinya. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal seperti keadaan atau situasi serta, permasalahan hingga bahkan sikap moral manusia itu sendiri.
Keadilan juga memiliki dampak positif bagi setiap manusia. Dampak positif tersebut meliputi dapat membuahkan kreativitas dan seni tingkat tinggi. Kreativitas keadilan itu sendiri ditimbulkan karena adanya perlawanan ketika seseorang mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Dalam mewujudkan keadilan tersebut dapat juga ditunjukkan melalui demonstrasi, melukis, menulis dalam bentuk apapun bahkan membalasnya dengan berdusta dan melakukan kecurangan. Yang kesemuanya itu merupakan seni tingkat tingi dalam mewujudkan suatu keadilan.
Pengakuan atas perbuatan yang seimbang, pengakuan secara kata dan sikap antara hak dan kewajiban merupakan pengertian dari keadilan. Setiap manusia memiliki hak dan kewajiban sejak manusia itu dilahirkan. Dari hal tersebut maka hak dan kewajiban haruslah dijalankan secara seimbang dan selaras sehingga dapat terjalin harmonisasi dalam mewujudkan keadilan itu sendiri.
Keadilan pada dasarnya merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi setiap manusia di bumi ini dan tidak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan. Menurut Aristoteles, keadilan akan dapat terwujud jika hal-hal yang sama diperlakukan secara sama pula dan sebaliknya, hal-hal yang tidak semestinya juga diperlakukan dengan tidak semestinya pula. Keadilan itu sendiri memiliki ciri-ciri yang meliputi: tidak memihak, seimbang dan melihat segalanya sesuai dengan proporsinya baik secara hak dan kewajiban dan sebanding dengan moralitas.
Keadilan berbeda dengan dusta atau kecurangan. Keadilan lebih mengarah kepada sikap jujur dalam melakukan segala aktivitas atau tindakan. Sementara kecurangan sangatlah identik dengan perbuatan yang tidak baik dan tidak jujur.
Kecurangan pada dasarnya merupakan penyakit hati yang dapat menjadikan orang tersebut menjadi serakah, tamak, rakus, iri hati, matrealistis serta sulit untuk membedakan antara hitam dan putih serta mengesampingkan nurani dan sisi moralitas.
Beberapa faktor yang dapat menimbulkan kecurangan antara lain:
1. Faktor ekonomi. Setiap manusia berhak hidup dengan layak dan mampu membahagiakan dirinya sendiri. Dalam mewujudkan hal tersebut setiap manusia sebagai makhluk yang lemah sangatlah rentan sekali dalam merealisasikan keinginnnya dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai sebuah tujuan semu tanpa melihat orang lain disekelilingnya.
2. Faktor Peradaban dan Kebudayaan sangat mempengaruhi dari sikap dan mentalitas individu yang terdapat di dalamnya meski tidak selalu mutlak.  Keadilan dan kecurangan merupakan sikap mental yang membutuhkan keberanian dan sportifitas. Pergeseran moral  memicu terjadinya pergeseran nurani pada setiap individu didalamnya sehingga sangat sulit sekali untuk menentukan dan bahkan menegakan keadilan.
3. Teknis. Hal ini juga sangat dapat menentukan arah kebijakan bahkan keadilan itu sendiri. Terkadang untuk dapat bersikap adil, kita pun mengedepankan aspek perasaan atau kekeluargaan sehingga sangat sulit sekali untuk dilakukan. Atau bahkan mempertahankan keadilan kita sendiri harus bersikap salah dan berkata tidak jujur agar tidak melukai perasaan orang lain.
4. Dan lain sebagainya.
Keadilan dan kecurangan atau ketidakadilan tidak akan dapat berjalan dalam waktu bersamaan karena keduanya sangat bertolak belakang dan berseberangan. Dengan kata lain keadilan dan kecurangan memiliki perbedaan yang sangat mempengaruhi keduanya, baik dalam hal perkataan serta  tindakan yang dilakukan oleh setiap individunya.

Sumber: antihitamputih.wordpress.com

Manusia dan Penderitaan

MANUSIA DAN PENDERITAAN
Penderitaan
Penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Penderitaan seseorang belum tentu dianggap sebagi penderitaan oleh orang lain. Karena dari penderitaan itu sendiri merupakan pembangkit energi atau sebagai langkah awal mencapai kenikmatan dan kebahagiaan bagi seseorang. Dari penderitaan tersebut dapat menimbulkan hikmah tersendiri tetapi ada pula yang menyebabkan kegelapan dalam hidupnya.
Penderitaan dan Kenikmatan
Tujuan manusia dalam menjalankan hidupnya adalah untuk memperoleh kenikmatan. Sedangkan penderitaan adalah sesuatu yang selalu dihindari oleh manusia. Macam-macam penderitaan menurut penyebabnya, antara lain: penderitaan karena alasan fisik, (seperti bencana alam, penyakit dan kematian), penderitaan karena alasan moral, (seperti kekecewaan dalam hidup, matinya seorang sahabat, kebencian orang lain, dan seterusnya).
Kenikmatan dapat dirasakan ketika seseorang telah memperoleh kenikmatan itu sendiri dalam hidupnya, sementara penderitaan dapat dirasakan ketika seseorang juga merasakan sesuatu yang menyakitkan yang menimpa dirinya.
Aliran yang ingin secara mutlak menghindari penderitaan adalah hedonisme, yaitu suatu pandangan bahwa kenikmatan itu merupakan tujuan satu-satunya dari kegiatan manusia, serta kunci menuju kehidupan yang lebih baik.
Penafsiran hedonisme ada dua macam, yaitu:
1. Hedonisme psikologis yang berpandangan bahwa semua tindakan diarahkan untuk mencapai kenikmatan dan menghindari penderitaan.
2. Hedonisme etis yang berpandangan bahwa semua tindakan harus ditujukan kepada kenikmatan dan menghindari penderitaan.
Penderitaan dan Kasihan
Dengan penderitaan yang dialami oleh seseorang, dan penderitaan tersebut tidak mampu ataupun tidak sanggup dilalui dengan baik, itulah letak kasihan orang lain dan rasa kasihan itu muncul karena orang lain sendiri yang menyaksikan penderitaan seseorang.
Orang kasihan adalah yang hilang vitalitasnya, rapuh, busuk, dan runtuh. Kasihan juga dapat merugikan perkembangan kehidupan. Dengan adanya penderitaan dalam hidup, hendaknya setiap manusia berusaha sekuat tenaga untuk meringankan penderitaan dan jika mampu hendaknya mehilangkanpenderitaan yang di alaminya tersebut. .
Penderitaan dan Noda Dosa pada Hati Manusia.
Penderitaan juga dapat timbul akibat noda dosa pada hati manusia. Menurut Al-Ghazali dalam kitabnya Ihyaa’ Ulumudin, orang yang suka iri hati, hasad, dengki akan menderita hukuman lahir-batin, akan merasa tidak puas dan tidak pernah berterima kasih. Allah SWT telah memberi ilmu dan kekayaan atau kekuasaan-Nya, karena itu penderitaan-penderitaan lahir ataupun batin akan selalu menimpa orang-orang yang mempunyai sifat iri hati, hasad, dengki selama hidupnya sampai akhir kelak.
Setiap anggota badan diciptakan untuk melakukan suatu pekerjaan. Apabila hati sakit maka ia tidak dapat melakukan pekerjaan dengan sempurna melainkan hanya akan menimbulkan kekacauan dan kegelisahan. Ciri hati yang tidak dapat melakukan pekerjaan ialah apabila ia tidak dapat berilmu, berhikmah, bermakrifat, mencintai Allah dengan menyembah-Nya, merasa erat dan nikmat mengingat-Nya.
Penderitaan seseorang ditimbulkan karena seseorang tersebut merasakan suatu keinginan atau dorongan yang tidak dapat diterima atau menimbulkan keresahan, gelisah, atau penderitaan itu sendiri. Dari hal tersebut setiap manusia selalu berusaha menjauhkan diri dari ruang lingkup kesadaran atau perasaannya.
Mengenal atau makrifat kepada Allah yang membawa semangat taat kepada Allah SWT dengan cara menentang hawa nafsu, merupakan obat untuk menyembuhkan penyakit dalam hati yang berupa penderitaan dan kegelisahan. Setiap penderitaan yang kita alami, sebagai seorang hamba yang beriman, hendaknya kita bertawakal dan berserah diri menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT agar penderitaan yang kita alami cepat berakhir.

Sumber: exalute.wordpress.com

Manusia dan Keindahan

MANUSIA DAN KEINDAHAN

Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, pemandangan alam, manusia, rumah, suara, warna, dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran.
Menurut The Liang Gie dalam bukunya “Garis Besar Estetik” (Filsafat Keindahan) dalam bahasa Inggris keindahan itu diterjemahkan dengan kata “beautiful”. Dalam bahasa Perancis keindahan di ambil dari kata “beau”, sementara dalam bahasa Italia dan Spanyol keindahan berasal dari kata “bello”. Kata-kata tersebut ber­asal dari bahasa Latin yaitu “bellum”. Akar katanya adalah ”bonum” yang berarti kebaikan kemudian mempunyai bentuk pengecilan menjadi ”bonellum” dan terakhir dipendekkan sehingga ditulis “bellum”.
A. Secara luas pengertian keindahan terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1. Keindahan dalam arti luas.
Menurut The Liang Gie dalam bukunya menjelaskan.bahwa keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Keindahan dalam pengertian yang seluas-luasnya meliputi: keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, dan keindahan intelektual.
2. Keindahan dalam arti estetik murni.
Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.
3. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan.
Keindahan yang hanya menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna. Keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebalikan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata.
Nilai digolongkan menjadi dua bagian, yaitu:
1. Nilai ekstrinsik
Adalah nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu. Contohnya puisi, bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi, baris, sajak, dan irama.
2. Nilai intrinsik
Nilai intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri. Contohnya pesan puisi yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda).
Beberapa persepsi tentang keindahan sebagai berikut:
1. Keindahan adalah sesuatu yang mendatangkan rasa menyenangkan bagi yang melihat    (Tolstoy).
2. Keindahan adalah keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain. (Baumgarten).
3. Keindahan harus dapat memupuk perasaan moral. Sedangkan yang amoral tidak bisa dikatakan indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral (Sulzer).
4. Keindahan dapat terlepas sama sekali dari kebaikan (Winehelmann).
5. Yang indah adalah yang memiliki proporsi yang harmonis. Serta yang indah adalah nyata dan yang nyata adalah yang baik. (Shaftesbury). .
6. Keindahan adalah sesuatu yang dapat mendatangkan rasa senang (Hume).
7. Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan rasa senang dalam waktu sesingkat-singkatnya. (Hemsterhuis).
B. Pengelompokkan pengertian keindahan terdiri dari:
1. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar pada titik pijak atau landasannya.
2. Pengelompokan pengertian keindahan dengan berdasar pada cakupannya.
3. Pengelompokan pengertian keindahan berdasarkan luas dan sempitnya.
C. Alasan Manusia Mencipta Keindahan
Keindahan itu pada dasarnya adalah alamiah yang berarti wajar serta tidak berlebihan maupun tidak kurang pula. Maka keindahan berasal dari kata indah berarti bagus, permai, cantik, molek dan sebagainya. Benda yang mengandung keindahan ialah segala hasil seni dan alam semesta ciptaan Tuhan.
D. Hubungan manusia dan keindahan
manusia memiliki lima komponen yang meliputi nafsu, akal, hati, ruh, dan sirri (rahasia illahi) yang secara otomatis dimiliki ketika manusia tersebut dilahirkan. Dengan komponen tersebut akhirnya manusia tidak dapat dipisahkan dengan sesuatu yang disebut dengan keindahan.
Akal dan budi merupakan kekayaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. dengan di anugerahkannya akal dan budi manusia memiliki kehendak atau keinginan. serta yang mampu menyenangkan atau memuaskan hati setiap manusia hanyalah sesuatu yang baik dan indah.
Maka keindahan pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia. Karena dengan keindahan itu manusia merasa nyaman hidupnya. Manusia menggunakan nafsunya untuk mendorong hasrat atau keinginannya. Dan dengan hati, manusia memiliki sensibilitas esthetis.
Selain itu manusia memang secara hakikatnya membutuhkan keindahan guna kesempurnaan pribadinya. Tanpa estetika manusia tidak akan sempurna, Karena salah satu unsur dari kehidupan adalah estetika.

Sumber: akudisinidwi.wordpress.com weblog