Kamis, 19 April 2012

Cinta dan Perkawinan

Cinta dan pernikahan hmm...sebernarnya bingung juga ya tiba-tiba bisa dapat tema ini hehe...padahal belum pernah tahu arti menikah dan merasakan pernikahan itu seperti apa?...tantangan, yang semoga bisa menambah pengetahuan saya pribadi maupun semua yang membacanya. Dan...kalian juga pasti tahu, Allah itu menganugerahkan cinta karena sebagai bentuk penyempurnaan ibadah kepada-Nya. Yang pada akhirnya cinta itu sendiri abadi dalam sebuah ikatan pernikahan. Untuk lebih jelasnya lagi, kalau begitu langsung aja ya...silahkan chek dibawah ini! ^_^

Definisi Cinta
Kamus webster mendefinisikan cinta sebagai perasaaan sentimental yang muncul dari akal karena tersulut sebuah keindahan atau penilaian dari jenis apapun. Cinta adalah corak kehormatan, kesucian, dan kebenaran. Cinta juga kunci rahasia menuju kehidupan yang jauh lebih baik. Cinta memang sudah kita miliki, namun bagaimanakah cinta itu bisa berkembang?.. Bertemu dengan seseorang yang mampu menarik hati, menunjukkan raut wajah yang berbeda dan keinginan untuk lebih dekat dengannya sehingga terjadilah perkenalan diantara keduanya, yang pada akhirnya berlanjut pada sebuah hubungan percintaan. Dunia tampak lebih indah ketika sedang jatuh cinta. rasanya seperti ada tongkat sihir yang menyentuh semesta yang menambah kegemerlapannya dengan mantera-mantera memikat. 

Jika diatas telah membahas sedikit tentang arti cinta, kini berlanjut pembahasan terkaitnya  cinta dan pernikahan.

A. Memilih Pasangan

Sebelum melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi, baik itu menjalin hubungan teman dekat terlebih lagi menikah, yang pasti pemilihan pasangan itu bisa dikatakan urutan pertama. Nah, disini pikiran sehat dibutuhkan sebagai petunjuk untuk mencari tahu selera, watak, dan keinginan apa saja yang memiliki titik kesamaan. Pikiran sehat juga dibutuhkan untuk mencari tahu tingkat pendidikan dan status yang berhasil diraih oleh calon pasangan, terlebih wanita muda yang tertarik dengan seorang pria, harus mampu mengambil keputusan secepat mungkin apakah status pria tersebut setingkat dari segi intelektual, moral, dan sosial atau tidak?. Jika setelah mengevaluasi status itu ada beberapa kekurangan pada diri calon pasangan, maka seorang wanita harus menjauh dan mengambil keputusan yang berani. Jika calon pasangan berhasil melewati uji coba tersebut, maka wanita memiliki alasan untuk membiarkannya mendekat.

Mencari pasangan janganlah terlalu menuntut untuk bisa memperoleh yang sempurna, karena tak ada manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah semata. Manusia juga tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah ia peroleh, mereka akan terus mengejar keinginannya dan terkadang tanpa memperdulikan dampak dan orang lain disekitarnya. Setiap manusia memiliki pilihan yang berbeda-beda sesuai dengan kriterianya masing-masing dalam menentukan pasangan yang mereka inginkan. Namun, tidak jarang juga mereka yang tidak memiliki kriteria tertentu. Orang yang terlalu selektif dalam memilih kebanyakan justru akan merasakan kesulitan dalam menemukan apa yang ingin didapatkannya. Berbeda dengan orang yang tidak terlalu mempermasalahkan ketentuan tertentu, dan tanpa mereka sadari seseorang akan datang padanya dengan sendirinya meskipun tidak mencari-cari yang tepat.

B. Hubungan dalam Perkawinan

Hubungan terjadi diiringi karena adanya kedekatan yang lebih intens antara individu dengan individu lainnya. Hal itu terjalin biasanya diawali dengan kecocokan dalam beberapa aspek. Yang kemudian akan bertambah dekat, baik itu sahabat maupun pasangan hidup. Hubungan pasangan hidup bisa dikatakan lebih kompleks dibandingkan dengan antar sahabat. Mengenal dan kemudian memutuskan untuk menikah bukanlah akhir tujuan dalam sebuah hubungan. Karena pada hakikatnya merupakan awal kehidupan seseorang. Yang nantinya kemungkinan akan mereka temukan problematika didalamnya. Pasangan yang telah menikah disini diharapkan agar selalu siap dengan apapun yang terjadi kedepannya dan menghadapinya bersama-sama. Dan tidak jarang pula setiap masalah mampu membuat sebuah hubungan mengalami kekacauan. Bagaimakah caranya memperkuat sebuah hubungan?...ya, hubungan suami-istri akan menjadi kuat secara istimewa dan langgeng ketika masing-masing berhasil mencapai persepsi seksual terdalamnya. 

Pasangan suami-istri biasanya menghabiskan waktu hidup mereka untuk mewujudkan persepsi seksual itu. Sepertinya faktor paling fundamental dan terkuat dalam hubungan ini adalah daya tarik jasmani meski sampai batas-batas tertentu. Penampilan jasmani lebih banyak berpengaruh bagi kaum pria dibandingkan kaum wanita. Karena wanita lebih tertarik pada pribadi, kemampuan dan kelayakan yang dimiliki oleh seorang pria. Kesuksesan sebuah hubungan dalam berbagai bidang memang selalu menuntut usaha dan kerja keras. Tidak sedikit juga kita temukan kendala dalam mencapai sebuah hubungan yang harmonis. Mungkin saja itu terjadi sebagai ujian tersendiri apakah pasangan bisa kuat menjalaninya atau tidak. Jika mampu bertahan, maka terciptalah kekuatan sehingga membuat hubungan keduanya lebih baik lagi.

C. Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan


Dimanapun keberadaan seseorang pada mulanya membutuhkan penyesuaian diri terlebih dahulu. Begitu pun dengan penyesuaian dalam sebuah hubungan. Setelah seseorang menikah, dalam kehidupannya kini tidak hanya sendiri melainkan ada pasangan yang menemani. Membangun rumah tangga yang harmonis itulah tugas setiap pasangan yang telah menikah. Mereka juga membutuhkan adaptasi untuk lebih peka terhadap perasaan pasangannya. Kalau dulu mereka hanya mengetahui sifat dari masing-masingnya, kini mereka yang telah menikah dituntut agar mampu bersikap toleransi dan sikap saling memahami serta mengerti sifat, sikap, dan hal-hal yang disukai maupun tidak disukai oleh pasangannya.

Fase kehidupan juga merupakan pertumbuhan dari sebuah pernikahan. Menyatukan dua pribadi yang berbeda untuk terciptanya sebuah penyatuan yang didasarkan atas nama cinta. Segala bentuk persoalan yang pada mulanya membutuhkan bantuan baik dari keluarga dan orang tua, sehingga seiring berjalannya waktu karena telah tumbuhnya kedewasaan yang lebih dan telah terbiasanya mereka hadapi, membuat keduanya  menjadi kuat dan mampu mengadaptasikan diri dalam kehidupan berkeluarga. Tidak lagi bergantung dan menyerahkan persoalan kepada orang lain, tetapi akan menyelesaikannya bersama dengan pasangannya. Hal itu juga mampu berjalan dengan baik karena adanya komunikasi dan intensitas pertemuan yang sering mereka lakukan. Tidak hanya ketika mereka dirumah maupun diluar rumah, terlebih jika kedua-duanya berkarir dalam dunia kerja.

D. Perceraian dan Pernikahan Kembali

Kelanggengan hubungan dalam pernikahan adalah keinginan setiap pasangan. Namun bagaimanakah jika pernikahan itu tidak langgeng dan justru akan mengakibatkan perceraian?...Baiklah, dalam hal ini bisa dikatakan perceraian itu tidak hanya terjadi begitu saja. Setiap akibat pasti ada penyebabnya, tak mungkin ada asap tanpa api. Itulah sedikit ungkapan peribahasa sebagai perumpamaannya. Berbicara tentang perceraian bisa dikaitkan dengan daya tarik spontan. Jika Anda tertarik kepada seseorang hanya karena kelembutannya, ketulusannya, karena simpatinya terhadap Anda, atau karena menjaga perasaan maka hubungan itu tidak bisa bertahan lama. Hubungan semacam itu tidak bisa langgeng, sebentar saja pasti akan hancur. Bahkan seandainya pernikahan semacam itu sukses, maka pasangan Anda tidak bisa membaur dengan persepsi-persepsi Anda yang paling dalam ketika Anda berdua saling melihat pasangan sebagai manusia yang sebenarnya. Kelanggengan terlihat dari bagaimana seseorang memperhatikan sikap dan ketulusan pasangannya. Selain itu juga harus memperhatikan kesetiaannya terhadap nilai-nilai bersama. Dan harus selalu sadar bahwa rasa tertarik, harus berasal dari kedua belah pihak, bukan dari satu pihak saja.  
            
Penyebab perceraian kebanyakan terjadi karena didalamnya terselip berbagai persoalan rumah tangga yang tidak menemukan akhir penyelesaiannya. Dibutuhkan kekompakkan antara keduanya dalam menghadapi berbagai persoalan itu. Pengertian...itulah hal yang seharusnya bisa mereka tanamkan, karena jika minimnya sikap saling perngertian keegoisan memuncak. Jika keegoisan diiringi dengan kemarahan yang membara, perlu juga kesabaran. Tidak diperkenankan keduanya saling mengadu amarahnya. Justru jika misalnya istri lebih sensitif dengan menunjukkan kemarahannya, maka suami harus lebih mampu meredam amarahnya. Sehingga konflik yang sedang terjadi tidak semakin besar. Tidak menutup kemungkinan juga, konflik yang pada akhirnya menimbulkan perceraian itu bisa terjadi karena adanya pihak ketiga yang dengan sengaja menyebarkan kesalahpahaman diantara pasangan tersebut.

Memilih sisi positif berarti memilih cara paling efektif dan efisien daladm hidup. Seharusnya pada kedalaman diri kita, terdapat keseimbangan dua rasa yang saling berlawanan ketika hubungan yang mesra itu berada dalam ujian. Pertama-tama memang sekelompok perasaan tertentu yang mendominasi. Tetapi sekelompk rasa yang lainnya tidak lagnsung mundur diri. Ia tetap ada walau terpaksa mundur dan sembunyi di pojok gelap untuk menuggu kesempatan. Suami-istri menjalankan tugas dan peran masing-masing dengan cepat. Keduanya akan merasa lemah ketika tidak bisa mencari jalan keluar dari sisi-sisi negatif. Mereka merasa bahwa jiwanya adalah karikatur kepribadiannya dalam kehidupan rumah tangga. Jika semua orang memikirkan apa saja yang menyenangkan pasangannya lalu meninggalkan apa yang tidak mereka senangi, tentu saja hubungan keluarga tidak akan hancur. Namun, berbeda jika pasangan telah menemukan jalan keluar dari perosalan yang mereka hadapi. Mereka akan cenderung introspeksi diri dengan perbuatan dan kesalahan-kesalahannya sehingga menyadarkan dirinya bahwa masalah itu tidak sepenuhnya selesai dengan kemarahan dan kesalahan satu pihak saja. Yang pada akhirnya pasangan yang telah bercerai tersebut bisa memulai hidup yang baru dengan menikah kembali dengan pasangannya.

E. Alternatif Selain Pernikahan

Mengapa ada pernikahan?...karena kita ingin terikat dengan individu lain agar hidup kita lebih dalam dan bermakna daripada cara hidup independen dan bebas yang pernah kita jalani. Namun ada juga beberapa orang yang memutuskan untuk tidak memiliki pasangan. Mungkin mereka beranggapan bahwa ketika kehidupan itu kita jalani dengan pasangan akan terasa sulit karena menemukan berbagai persoalan yang nantinya kemungkinan bisa saja kita hadapi. Akan tetapi hakikatnya menikah itu adalah ibadah. Hidup akan lebih indah melalui segala bentuk kehidupan bersama pasangan. Seseorang yang memutuskan untuk sendiri (single life) bisa saja disebabkan karena traumatik tersendiri yang pernah mereka rasakan sehingga membuatnya untuk tidak berani lagi memulai hidup secara bersama. Pengalaman memang berperan penting dalam kelangsungan hidup seseorang. Ia bisa mengubahnya menjadi lebih kuat namun tidak sedikit yang lemah karenanya. Membuat seseorang takut memulai, namun juga menimbulkan arti yang mendalam.

“Pernikahan yang sukses adalah seperti tenunan dalam beludru kehidupan praktis. Seperti nada harmoni yang dipetik hubungan realistis. Dan pernikahan yang sukses adalah hasil gabungan cinta, penghormatan, kesetiaan, dan sikap saling mendukung”.

Daftar Pustaka:
Abdullah, ‘AF. 2005.Tips Menggapai Keluarga Idaman.Jakarta:Bening Publishing.
Shalal, ‘AA.2006.Yang Disukai Wanita dari Pria.Jakarta:Daar ath-Tharabis, Kairo.