Sabtu, 07 Mei 2011

Kelebihan Dan Kekurangan Teknologi Serta Pengaruhnya Terhadap Manusia


            Televisi merupakan media elektronik yang digunakan sebagai media informasi bagi seluruh masyarakat yang menontonnya. Pada zaman dahulu hanya sebagian orang tertentu saja yang dapat memiliki televisi. Namun seiring perkembangan zaman, saat ini televisi telah marak diberbagai tempat termasuk setiap rumah penduduk. Selain sebagai media informasi, televisi juga berfungsi sebagai media penghibur yang didalamnya menyajikan berbagai acara yang menarik dan bervariatif. Media televisi adalah organisasi profit yang sangat tergantung oleh lingkungan organisasinya. Lingkungan yang dihadapi oleh media adalah lingkungan yang dinamis, sumber daya kurang, persaingan yang ketat sehingga media televisi harus mampu membaca keinginan pasar. Kehadiran televisi di tengah-tengah masyarakat memberi pengaruh yang besar kedalam kehidupannya. Televisi merupakan media audio visual yang mampu menjangkau daerah-daerah yang jauh secara geografis.
           
            Televisi merupakan alat penyebar informasi yang paling memasyarakat dan menjadi konsumsi semua kalangan dalam intensitas waktu yang lama. Sebagian pengetahuan juga diperoleh dari menonton televisi, yakni dengan acara berita. Dari acara tersebut menambah wawasan yang luas karena berita menyajikan informasi mulai dari informasi dalam negeri hingga luar negeri dengan demikian apa yang kita ketahui bukan hanya pengetahuan negara sendiri melainkan juga pengetahuan yang luas hingga mancanegara. Namun, tayangan berita yang berisi peristiwa kriminalitas tidak seharusnya mengeksploitasi tampilan sadisme yang menimbulkan kengerian, karena mestinya pembertaan semacam ini bisa memberi efek jera gara orang berpikir ulang atau mengurungkan niat untuk berbuat kejahatan.

            Televisi kini bukan hanya sebuah alat media massa yang menyebarkan suatu informasi tertentu kepada masyarakat namun telah berkembang menjadi suatu industri hiburan yang sangat menjanjikan sebagai ladang investasi. Hal ini ditandai dengan munculnya beragam stasiun televisi swasta yang berlomba-lomba menyajikan banyak variasi acara hiburan untuk masyarakat yang lebih mementingkan rating daripada melaksanakan fungsi sebagai media pendidikan. Acara hiburan tersebut menyajikan acara yang menghibur terutama bagi anak-anak selama mereka libur sekolah maupun di waktu akhir pekan. Jika mereka tidak berpergian, maka mereka menghabiskan waktu libur mereka dengan menonton televisi. Sesuai dengan tema liburan, televisi menyajikan berbagai acara hiburan seperti film kartun yang dikhususkan untuk menghibur anak-anak. Selain itu juga dapat menghibur orang dewasa yang tengah lelah seharian bekerja maupun beraktivitas. Setiap orang yang menyaksikan acara televisi dibuat terhanyut oleh setiap sajian acaranya sehingga mereka yang menonton menjadi betah berlama-lama di depan televisi.

            Dari media elektronik tersebut juga menjadi salah satu wadah untuk memasarkan style atau gaya hidup berbagai negara yang pada umumnya membuat anak-anak remaja terpengaruh untuk mengikuti gaya hidup orang lain yang kadangkala tidak sesuai dengan usia maupun kebudayaannya. Televisi memiliki pengaruh yang baik maupun buruk pada perkembangan setiap anak. Banyak acara televisi yang bersifat positif maupun negatif, dan tugas orang tua lah yang harus pandai memilih dan mengawasi setiap tontonan yang dilihat oleh buah hatinya agar tidak berpengaruh ke arah yang negatif. Berbagai acara televisi didalamnya terdapat hal yang negatif seperti sinetron, kekerasan, seks, dll yang kesemuanya itu berdampak buruk bagi setiap orang yang menontonnya baik anak kecil maupun orang dewasa lainnya. Acara televisi pada umumnya mempengaruhi sikap, pandangan, persepsi dan perasaan penonton sebab salah satu pengaruh psikologis televisi seakan-akan menghipnotis penonton sehingga meeka seolah-olah hanyut dalam keterlibatan kisah atau peristiwa yang ditayangkan televisi.
           
            Peristiwa yang dimaksud di atas adalah salah satu pengaruh dari sinetron yang ditayangkan di Indonesia di dominasi oleh konflik-konflik yang tidak menggambarkan kehidupan yang santun yang sesuai budaya bangsa serta menanamkan nilai tertentu yang mempengaruhi budaya dalam masyarakat. Cerita sinetron yang ditampilkan semestinya lebih realistis dan lebih menampilkan kehidupan masyarakat yang wajar, apa adanya dan tetap santun. Televisi juga membuat setiap orang yang menontonnya menjadi lupa waktu karena acaranya yang tidak ada habisnya sehingga menimbulkan rasa ingin menotonnya terus menerus. Karena hal tersebut juga dapat mempengaruhi ketajaman penglihatan. Menonton televisi yang berlebihan dapat menimbulkan mata perih karena pengaruh cahaya televisi yang terang, terlebih lagi jika terlalu dekat dengan media tersebut.

            Tayangan televisi seharusnya bisa mempromosikan pengetahuan, kesadaran, dan empati antar budaya sehingga dapat menyoroti keragaman budaya. Yang tak kalah penting adalah menumbuhkan saling pengertian antar budaya. Televisi mestinya berisi tayangan-tayangan yang menuat nilai-nilai pendidikan, dan tidak di dominasi oleh tayangan yang justru penuh kekerasan dan sensualitas. Mengingat begitu kuatnya pengaruh televisi terhadap masyarakat, hendaknya seluruh tayangan acara pada televisi menampilkan acara yang mendidik dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat yang menyaksikannya.

Sumber:http://duniacfa.wordpress.com/2009/05/26/pengaruh-televisi-terhadap-budaya-masyarakat/

Jumat, 18 Maret 2011

Menelaah/Analisis Sifat Manusia Berdasarkan Letak Geografisnya


KEBUDAYAAN JAWA


Negara Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar dari negara-negara lain di seluruh dunia. Wilayah Indonesia sangatlah luas dari Sabang hingga Merauke, dan Indonesia itu sendiri berada di daerah khatulistiwa yang memiliki iklim tropis dan sub tropis. Negara ini memiliki banyak pulau, yang terdiri dari 33 Propinsi. Di setiap pulaunya terdapat berbagai suku budaya yang berbeda-beda, dan memiliki ciri khasnya masing-masing. Dari berbagai suku didalamnya, kita dapat menelaah bagaimana proses kehidupan dari masyarakat tersebut.

Salah satu yang akan saya bahas adalah mengenai Suku Jawa. Suku Jawa merupakan suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Setidaknya 41,7% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. (Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia). Penduduk ini pada umumnya hidup dengan bercocok tanam, kemudian hasilnya akan dipanen dan hasil penjualan panennya tersebut dijadikan sebuah penghasilan untuk mencukupi kebutuhan hidup masing-masing individu. Dalam melakukan segala aktivitasnya, penduduk suku Jawa tidaklah berpangku tangan kepada orang lain disekitarnya. Mereka bekerja dengan penuh ketekunan, keuletan, dan sigap dalam segala hal termasuk memberikan yang terbaik untuk panenya sehingga hasilnya akan bagus dan dapat memuaskan para pembelinya. Penduduknya sejak kecil telah terlatih untuk bekerja keras mencari penghasilan untuk hidupnya dan mereka tidak mudah menyerah akan sesuatu yang kemungkinan saja bisa membuatnya hilang semangat. Suku Jawa terkenal dengan kepribadian individunya karena menurut kebanyakan orang, penduduk suku tersebut ramah, lemah lembut, dan ciri khasnya terdapat pada kehalusan dalam bertutur kata serta adap kesopanan yang mereka miliki.

Dari ciri khas yang mereka miliki itu, terlihat sekali perbedaan dari masing-masing suku yang ada di Indonesia. Masyarakat menilai bahwa seseorang yang berketurunan Jawa pastilah lemah lembut, tetapi hal tersebut tidaklah selalu demikian. Karena kembali lagi kepada individunya masing-masing yang sudah pasti memiliki karakter yang berbeda-beda. Pada umumnya suku Jawa menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur kata setiap harinya. Dalam sebuah survei yang diadakan majalah Tempo pada awal dasawarsa 1990-an, kurang lebih hanya 12% orang Jawa yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa mereka sehari-hari, sekitar 18% menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia secara campur, dan selebihnya hanya menggunakan bahasa Jawa saja.  

Dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah unggah-ungguh yang berarti bahwa suku Jawa memiliki aturan perbedaan kosa kata dan intonasi berdasarkan hubungan antara pembicara dan lawan bicara. Suku Jawa sebagian besar menganut agama Islam, akan tetapi banyak pula yang menganut agama lain seperti Protestan, Khatolik, Hindu, dan Budha. Terdapat pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut agama Kejawen. Kepercayaan tersebut berdasarkan kepercayaan Animisme dengan pengaruh Hindu dan Budha.  Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur. ( Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia )

Dalam hal pekerjaan, banyak ditemukan pekerja yang berasal dari Suku Jawa dalam segala bidang. Akan tetapi orang Jawa lebih cenderung untuk bekerja sebagai seorang buruh maupun tenaga kerja Indonesia dibandingkan bekerja dalam bidang bisnis dan Industri. Hal tersebut dikarenakan kemampuan orang Jawa kurang menonjol dalam bidang bisnis dan industri. Dalam kebudayaan Jawa juga terkenal dengan tiga pembagian golongan sosialnya, diantaranya: kaum santri, abangan, dan priyayi.

Setiap wilayah suatu daerah memiliki bagian-bagian lapisan masyarakat, salah satunya lapisan masyarakat Jawa yang terdiri dari: Bendoro atau Bendoro Raden (golongan bangsawan keturunan raja-raja), Priyayi (para kaum terpelajar yang memang biasanya berasal dari golongan bengsawan juga), dan Wong Cilik (golongan sosial paling bawah). Orang Jawa juga terkenal dengan seni budayanya yang salah satunya meliputi pementasan wayang yang dipengaruhi oleh Hindu dan Budha. Repertoar cerita wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabrata. Selain seni wayang juga terdapat seni batik dan keris yang merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa. Musik gamelan juga memegang peranan penting dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa. Kepribadian orang Jawa sangatlah sopan dan halus dalam segala hal yang mereka lakukan setiap harinya, baik dengan orang yang lebih tua maupun yang lebih muda dari dirinya.

Akan tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang, sehingga lebih kepada menyembunyikan perasaan mereka dari orang lain. Sifat tersebut dilatarbelakangi berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga keharmonisan atau keserasian dan menghindari konflik, karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat. Namun tidak semua orang Jawa memiliki sikap seperti itu, tergantung lingkungan dan adap yang diterapkan dalam daerahnya masing-masing. Karena dalam Suku Jawa, berbeda daerah maupun wilayah itu merupakan sudah menjadi perbedaaan diantara masing-masing individunya, baik dari segi kebudayaan, bahasa, adat istiadat, serta sikap dan sifatnya. Penduduk wilayah Jawa bagian timur lebih cenderung memiliki watak yang egaliter, lugas, terbuka, terus terang, apa adanya, dan tidak suka basa-basi.
Sistem kekerabatan masyarakat suku Jawa menganut prinsip Bilateral. Kerabat-kerabat dari pihak Ayah atau Ibu memiliki sebutan yang sama. Misalnya menyebut kakak perempuan dari Ayah atau Ibu dengan sebutan Bude. Suku Jawa juga tidak akan mempersoalkan dimana mereka akan tinggal sebelum mempunyai rumah sendiri dan itu berlaku bagi pasangan yang baru menikah. Karena menurut mereka selagi orang tua masih memiliki tempat tinggal, mereka masih tetap bisa tinggal dirumah orang tua dari pihak suami atau istri yang baru menikah tersebut.
Falsafah kebudayaan Jawa adalah keseimbangan, keselarasan, dan keserasian dengan tujuan untuk menghasilkan keharmonisan. Budaya jawa telah berkembang sejak zaman pra-sejarah. Tumpuan utamanya berdasarkan pada kepercayaan animisme dan dinamisme. Masyarakat Jawa juga percaya selain manusia, hal tersebut dapat dibuktikan dengan ditemukannya banguna-bangunan kuno yang berfungsi untuk mengadakan upacar religi dengan tujuan untuk memuja roh atau dewa yang menguasai jagat raya beserta isinya.

Kamis, 24 Februari 2011

Aplikasi Matematika Dalam Ilmu Psikologi


            Vektor adalah suatu besaran yang mempunyai nilai dan arah. Adapun secara aljabar, vektor merupakan bagian dari suatu bidang atau ruang bergaris lurus yang mempunyai arah. Dalam menjalankan kehidupannya, manusia juga memiliki arah dan tujuan hidup serta tidak lepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan yang meliputi nilai etika, sosial, ekonomi, budaya, agama, dll. Nilai-nilai tersebut hendaknya berjalan beriringan dan berlangsung secara seimbang tanpa mengutamakan salah satu dari nilai-nilai tersebut. Hal itu juga merupakan sarana pembangun perilaku seseorang untuk tetap mengontrol segala tindakannya untuk lebih memperhatikan dampak yang mungkin akan terjadi dari perilaku yang dilakukannya itu. Salah satu yang berkaitan dengan perilaku adalah nilai etika. Dimana etika atau perilaku setiap individu itu berbeda-beda dan beragam. Perilaku hendaknya dibangun dengan baik sejak dini, agar kelak seseorang telah terlatih untuk berperilaku dengan baik sampai dirinya dewasa nanti.
            Dengan kata lain orang tualah yang sangat berperan penting dalam pertumbuhan anaknya termasuk mendidik sang anak untuk menjadi pribadi yang sesuai dengan apa yang diharapkannya. Nilai yang diajarkan tentunya memiliki arah dan tujuan yang jelas. Dimana saat kita mengarahkan sesuatu kepada seseorang itu tidak mudah, karena setiap orang memiliki sifat, sikap, serta karakter yang berbeda-beda, sehingga ia belum tentu mengerti dan menerima serta mengikuti apa yang kita arahkan. Tanpa arah yang jelas, kita tidak tahu hasil yang akan kita peroleh dari apa yang kita kerjakan. Dan apabila berlawanan arah, maka kemungkinan arah yang sebelumnya ingin kita capai tidak berjalan dengan baik sehingga arah dan tujuan tersebut tidak kita dapatkan dalam perjalanan hidup kita. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap psikologis seseorang, contohnya: apabila seseorang menginginkan atau mengharapkan sesuatu, tetapi pada akhirnya apa yang ia harapkan tidak sesuai, maka akan timbul dalam dirinya rasa kecewa bahkan terkadang menganggap dirinya gagal.
            Kekecewaan tersebut membuatnya mudah menyerah dan ada kecenderungan untuk takut mencoba kembali dengan membuat suatu harapan yang lain lagi, karena merasa bahwa jika harapan awal saja tidak menghasilkan apapun, apalagi untuk memulai suatu harapan yang baru. Karena hal tersebut, seseorang mengangggap bahwa apa yang ia harapkan adalah harapan kosong tanpa membuahkan hasil. Akan tetapi penilaian tentang hal tersebut berbeda-beda pada setiap individu, tergantung kepribadiannya. Ada individu yang mudah menyerah jika mendapat kegagalan dan cenderung berhenti berharap akan sesuatu, tapi ada juga individu yang selalu mencoba lagi meskipun ia telah mendapat suatu kegagalan tak membuatnya mudah menyerah sehingga timbul motivasi dalam dirinya untuk terus mencoba. Individu yang selalu mencoba lagi akan harapan yang telah sirna dan tidak mudah menyerahlah yang cerdas dalam menetukan arah dan tujuan hidupnya.
            Akan tetapi arah tersebut tidaklah selalu berjalan lurus bagaikan sebuah garis lurus melintang secara vertikal maupun horizontal, melainkan kadangkala arah itu mengalami perubahan yang berarti hadirnya aral melintang yang membuat seseorang selalu berpikir bagaimana cara untuk tetap menstabilkan garis atau arah tujuan tersebut tanpa perubahan-perubahan pola pikir yang cenderung disebabkan karena pengaruh luar terlebih lagi pengaruh dari dalam seperti rasa tidak percaya diri akan sesuatu yang ingin dilakukannya. Kehidupan bagaikan sebuah bidang yang memiliki sisi serta sudut didalamnya. Dari bidang tersebut seseorang dituntut untuk cerdas dalam mengambil sisi yang baik dan menghilangkan sisi yang buruk dari bidang tersebut yang dapat merusak struktur perencanaan perjalanan hidup seseorang. Vector juga dinyatakan dalam bentuk komponen, dimana penjumlahan vector dilakukan dengan cara menjumlahkan komponen-komponen dari vector. Dari teori tersebut dapat kita kaitkan dengan struktur organ manusia yang terdiri atas komponen-komponen pembangun tubuh misalnya seperti otak. Pusat emosi manusia terdapat pada bagian otak yang dinamakan Hipotalamus. Dimana apabila salah satu dari bagian organ tubuh tersebut tidak bekerja dengan maksimal atau dalam artian tidak tersambung satu sama lain, maka komponen pembangun tubuh akan mengalami perubahan baik secara lahir maupun batin. Misalnya saja seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan, ia tidak dapat berpikir secara rasional (masuk akal) disebabkan karena tidak berfungsinya sistem syaraf sebagai pusat pengendali otak. Hal tersebut merupakan gangguan perilaku dan mental seseorang sehingga apapun yang ia lakukan tidak dapat terkontrol dengan baik karena komponen-komponen yang telah tersusun sudah terpecah belah tanpa terdapat suatu bentuk yang sempurna yang berbeda dari komponen-komponen yang dimiliki individu normal pada umumnya. Dengan demikian nilai dan arah yang terdapat pada pengertian vector dalam matematika, berkaitan dengan psikologi seseorang tergantung bagaimana ia menerapkan nilai dan arah kehidupan agar mencapai suatu komponen yang saling berhubungan satu sama lain.  

Kamis, 25 November 2010

Manusia dan Tanggung Jawab

                                    MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB

Kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang di sengaja maupun tidak disengaja merupakan pengertian dari tanggung jawab itu sendiri. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban. Dalam melakukan segala perbuatan atau tindakan, seseorang haruslah dapat mempertanggungjawabkannya. Rasa tanggung jawab tersebut hendaknya telah tertanam sejak manusia dilahirkan agar setiap perbuatan maupun tindakan pada akhirnya dapat dipertanggungjawabkan oleh manusia yang berbuat itu sendiri.

Timbulnya tanggung jawab itu karena manusia hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam. Manusia adalah makhluk sosial yang hidup bermasyarakat untuk itu manusia memiliki peran penting dalam menciptakan keseimbangan, keserasian, keselarasan antara sesama manusia dan lingkungannya. Tanggung jawab selalu berkaitan dengan segala perbuatan dan tindakan setiap manusia yang melakukannya itu sendiri.

Tetapi tidak semua manusia dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya, melainkan terkadang lari dari tanggung jawabnya. Hal itulah yang dapat membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya. Dalam menjalankan tanggung jawabnya, setiap manusia dapat melakukannya dengan berbagai hal, misalnya dengan perbuatan, perkataan, maupun kepedulian terhadap seseorang yang membutuhkan tanggung jawab tersebut.

Tanggung jawab bersifat kodrati yang berarti telah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dengan hal tersebut setiap manusia pasti akan dibebani dengan tanggung jawab. Tanggung jawab itu sendiri merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap manusia sebagai akibat dari perbuatan yang telah diperbuatnya. Dan dapat pula  sebagai akibat dari perbuatan pihak lain atau sebagai pengabdian dan pengorbanan pihak lain.

Ciri manusia beradab (berbudaya) adalah manusia yang dapat mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Manusia yang memiliki rasa tanggung jawab adalah manusia yang menyadari akibat baik ataupun buruk perbuatannya. Serta menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengorbanan atau pengabdian. Melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan serta takwa kepada Tuhan, manusia dapat menigkatkan kesadaran akan tanggung jawabnya.

Manusia berjuang semata-mata untuk memenuhi keperluan hidupnya atau keperluan pihak lain. Dalam usahanya itu, manusia menyadari bahwa ada kekuatan lain yang ikut menentukan yaitu kekuasaan Tuhan. Oleh karena itu tanggung jawab harus dimiliki oleh setiap manusia agar mereka menyadari bahwa apapun yang mereka lakukan memerlukan tanggung jawab. Seseorang yang memiliki rasa tanggung jawab yang besar merupakan seseorang yang selalu memikirkan pertanggung jawabannya akan segala tindakan yang diperbuatnya agar tidak merugikan dirinya sendiri maupun orang lain.


Sumber: arisudaryanto.blogspot.com

Manusia dan Pandangan Hidup

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
A. Pengertian Pandangan Hidup
Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Dan pandangan hidup itu sendiri bersifat kodrati, karena itu pandangan hidup tersebut dapat menentukan masa depan seseorang.   Pandangan hidup merupakan pendapat atau pertimbangan yang dapat dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.

Pandangan hidup berdasarkan asalnya terdiri dari tiga macam, meliputi:
1. Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
2. Pandangan hidup yang berupa ideology yaitu yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut.
3. Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

B. Cita-cita
Cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran, pengertian tersebut menurut kamus umum Bahasa Indonesia. Yang kesemuanya itu merupakan apa yang ingin diperoleh seseorang di masa yang akan datang. Jika cita-cita belum dapat tercapai, maka cita-cita tersebut hanyalah sebuah angan-angan yang belum dapat kita penuhi dengan baik. Kehidupan yang kita alami saat ini memiliki jarak dan waktu dengan cita-cita di masa yang akan datang.
Dalam mencapai suatu cita-cita, hal tersebut tergantung kepada tiga faktor yang melatarbelakanginya yang meliputi: faktor manusia, faktor kondisi, serta faktor tingginya cita-cita tersebut.
C. Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan merupakan perbuatan yang mendatangkan kebaikan. Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, serta makhluk bermoral.
Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan.
Manusia merupakan mahluk sosial yaitu makhluk yang hidup bermasyarakat, manusia saling membutuhkan, saling menolong, saling menghargai sesama anggota masyarakat.
Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membenci, saling merugikan, dan sebagainya.
Sebagai mahluk pribadi, manusia dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Baik buruknya setiap manusia ditentukan oleh suara hati. Suara hati adalah semacam bisikan di dalam hati yang mendesak seseorang, untuk mempertimbangkan dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan, tindakan atau tingkah laku.

Ada beberapa faktor-faktor yang dapat menentukan tingkah laku setiap individu, diantaranya:
1. Faktor pembawaan (hereditas) yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan.
2. Faktor lingkungan (environment).
3. Faktor pengalaman yang khas yang pernah diperoleh manusia itu sendiri.

D. Usaha/Perjuangan
Kerja keras untuk mewujudkan cita-cita merupakan suatu usaha dan perjuangan. Sebagian hidup manusia adalah usaha dan perjuangan. Tanpa kedua hal tersebut, manusia tidak dapat hidup sempurna. Dalam mewujudkan sesuatu yang kita inginkan hendaknya kita bekerja keras dengan menggunakan otak/ilmu, maupun dengan tenaga/jasmani. Bahkan juga dapat dilakukan dengan kedua-duanya. Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan. Karena kemampuan terbatas, itulah sebabnya timbul perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dengan manusia lainnya.
E. Keyakinan/Kepercayaan
Keyakinan/kepercayaan berasal dari akal atau kekuaasaan Tuhan. Menurut Prof.Dr.Harun Nasution, ada tiga aliran filsafat, yaitu sebagai berikut:
1. Aliran Naturalisme. Hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi.
2. Aliran Intelektualisme. Dasar aliran ini adalah logika / akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia dapat berpikir.
3. Aliran Gabungan. Dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga akal. kekuatan gaib yaitu  kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan.

F. Langkah-Langkah Berpandangan Hidup Yang Baik
Setiap manusia memiliki pandangan hidupnya masing-masing. Dalam memperoleh dan memperlakukan pandangan hidup, tergantung kepada manusia yang menjalankannya itu sendiri.
Ada yang memperlakukan pandangan hidup itu sebagai sarana mencapai tujuan dan ada pula yang memperlakukan sebagai penimbul kesejahteraan, ketentraman dan sebagainya.
Adapun langkah-langkah sarana dalam mencapai tujuan dan cita-cita dengan baik dalam pandangan hidup meliputi: mengenal, mengerti, menghayati, meyakini, serta mengabdi. Dengan demikian hendaknya setiap manusia dapat memperlakukan pandangan hidupnya dengan sebaik mungkin agar kehidupan yang dijalaninya memperoleh kesejahteraan hidup.


Sumber: irfanrahman.wordpress.com

Manusia dan Keadilan

MANUSIA DAN KEADILAN
Dalam kehidupannya setiap manusia dalam melakukan berbagai aktivitas atau kegiatannya pasti pernah mendapatkan perlakuan yang tidak adil atau bahkan sebaliknya, melakukan hal yang tidak adil. Setiap diri manusia itu sendiri memiliki dorongan atau keinginan untuk berbuat kebaikan atau kejujuran.
Namun dalam melakukan kejujuran tersebut tidaklah mudah dan selalu dibenturkan oleh permasalahan-permasalahan dan sering kali mengalami kendala yang dihadapinya. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal seperti keadaan atau situasi serta, permasalahan hingga bahkan sikap moral manusia itu sendiri.
Keadilan juga memiliki dampak positif bagi setiap manusia. Dampak positif tersebut meliputi dapat membuahkan kreativitas dan seni tingkat tinggi. Kreativitas keadilan itu sendiri ditimbulkan karena adanya perlawanan ketika seseorang mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Dalam mewujudkan keadilan tersebut dapat juga ditunjukkan melalui demonstrasi, melukis, menulis dalam bentuk apapun bahkan membalasnya dengan berdusta dan melakukan kecurangan. Yang kesemuanya itu merupakan seni tingkat tingi dalam mewujudkan suatu keadilan.
Pengakuan atas perbuatan yang seimbang, pengakuan secara kata dan sikap antara hak dan kewajiban merupakan pengertian dari keadilan. Setiap manusia memiliki hak dan kewajiban sejak manusia itu dilahirkan. Dari hal tersebut maka hak dan kewajiban haruslah dijalankan secara seimbang dan selaras sehingga dapat terjalin harmonisasi dalam mewujudkan keadilan itu sendiri.
Keadilan pada dasarnya merupakan sebuah kebutuhan mutlak bagi setiap manusia di bumi ini dan tidak akan mungkin dapat dipisahkan dari kehidupan. Menurut Aristoteles, keadilan akan dapat terwujud jika hal-hal yang sama diperlakukan secara sama pula dan sebaliknya, hal-hal yang tidak semestinya juga diperlakukan dengan tidak semestinya pula. Keadilan itu sendiri memiliki ciri-ciri yang meliputi: tidak memihak, seimbang dan melihat segalanya sesuai dengan proporsinya baik secara hak dan kewajiban dan sebanding dengan moralitas.
Keadilan berbeda dengan dusta atau kecurangan. Keadilan lebih mengarah kepada sikap jujur dalam melakukan segala aktivitas atau tindakan. Sementara kecurangan sangatlah identik dengan perbuatan yang tidak baik dan tidak jujur.
Kecurangan pada dasarnya merupakan penyakit hati yang dapat menjadikan orang tersebut menjadi serakah, tamak, rakus, iri hati, matrealistis serta sulit untuk membedakan antara hitam dan putih serta mengesampingkan nurani dan sisi moralitas.
Beberapa faktor yang dapat menimbulkan kecurangan antara lain:
1. Faktor ekonomi. Setiap manusia berhak hidup dengan layak dan mampu membahagiakan dirinya sendiri. Dalam mewujudkan hal tersebut setiap manusia sebagai makhluk yang lemah sangatlah rentan sekali dalam merealisasikan keinginnnya dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai sebuah tujuan semu tanpa melihat orang lain disekelilingnya.
2. Faktor Peradaban dan Kebudayaan sangat mempengaruhi dari sikap dan mentalitas individu yang terdapat di dalamnya meski tidak selalu mutlak.  Keadilan dan kecurangan merupakan sikap mental yang membutuhkan keberanian dan sportifitas. Pergeseran moral  memicu terjadinya pergeseran nurani pada setiap individu didalamnya sehingga sangat sulit sekali untuk menentukan dan bahkan menegakan keadilan.
3. Teknis. Hal ini juga sangat dapat menentukan arah kebijakan bahkan keadilan itu sendiri. Terkadang untuk dapat bersikap adil, kita pun mengedepankan aspek perasaan atau kekeluargaan sehingga sangat sulit sekali untuk dilakukan. Atau bahkan mempertahankan keadilan kita sendiri harus bersikap salah dan berkata tidak jujur agar tidak melukai perasaan orang lain.
4. Dan lain sebagainya.
Keadilan dan kecurangan atau ketidakadilan tidak akan dapat berjalan dalam waktu bersamaan karena keduanya sangat bertolak belakang dan berseberangan. Dengan kata lain keadilan dan kecurangan memiliki perbedaan yang sangat mempengaruhi keduanya, baik dalam hal perkataan serta  tindakan yang dilakukan oleh setiap individunya.

Sumber: antihitamputih.wordpress.com

Manusia dan Penderitaan

MANUSIA DAN PENDERITAAN
Penderitaan
Penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Penderitaan seseorang belum tentu dianggap sebagi penderitaan oleh orang lain. Karena dari penderitaan itu sendiri merupakan pembangkit energi atau sebagai langkah awal mencapai kenikmatan dan kebahagiaan bagi seseorang. Dari penderitaan tersebut dapat menimbulkan hikmah tersendiri tetapi ada pula yang menyebabkan kegelapan dalam hidupnya.
Penderitaan dan Kenikmatan
Tujuan manusia dalam menjalankan hidupnya adalah untuk memperoleh kenikmatan. Sedangkan penderitaan adalah sesuatu yang selalu dihindari oleh manusia. Macam-macam penderitaan menurut penyebabnya, antara lain: penderitaan karena alasan fisik, (seperti bencana alam, penyakit dan kematian), penderitaan karena alasan moral, (seperti kekecewaan dalam hidup, matinya seorang sahabat, kebencian orang lain, dan seterusnya).
Kenikmatan dapat dirasakan ketika seseorang telah memperoleh kenikmatan itu sendiri dalam hidupnya, sementara penderitaan dapat dirasakan ketika seseorang juga merasakan sesuatu yang menyakitkan yang menimpa dirinya.
Aliran yang ingin secara mutlak menghindari penderitaan adalah hedonisme, yaitu suatu pandangan bahwa kenikmatan itu merupakan tujuan satu-satunya dari kegiatan manusia, serta kunci menuju kehidupan yang lebih baik.
Penafsiran hedonisme ada dua macam, yaitu:
1. Hedonisme psikologis yang berpandangan bahwa semua tindakan diarahkan untuk mencapai kenikmatan dan menghindari penderitaan.
2. Hedonisme etis yang berpandangan bahwa semua tindakan harus ditujukan kepada kenikmatan dan menghindari penderitaan.
Penderitaan dan Kasihan
Dengan penderitaan yang dialami oleh seseorang, dan penderitaan tersebut tidak mampu ataupun tidak sanggup dilalui dengan baik, itulah letak kasihan orang lain dan rasa kasihan itu muncul karena orang lain sendiri yang menyaksikan penderitaan seseorang.
Orang kasihan adalah yang hilang vitalitasnya, rapuh, busuk, dan runtuh. Kasihan juga dapat merugikan perkembangan kehidupan. Dengan adanya penderitaan dalam hidup, hendaknya setiap manusia berusaha sekuat tenaga untuk meringankan penderitaan dan jika mampu hendaknya mehilangkanpenderitaan yang di alaminya tersebut. .
Penderitaan dan Noda Dosa pada Hati Manusia.
Penderitaan juga dapat timbul akibat noda dosa pada hati manusia. Menurut Al-Ghazali dalam kitabnya Ihyaa’ Ulumudin, orang yang suka iri hati, hasad, dengki akan menderita hukuman lahir-batin, akan merasa tidak puas dan tidak pernah berterima kasih. Allah SWT telah memberi ilmu dan kekayaan atau kekuasaan-Nya, karena itu penderitaan-penderitaan lahir ataupun batin akan selalu menimpa orang-orang yang mempunyai sifat iri hati, hasad, dengki selama hidupnya sampai akhir kelak.
Setiap anggota badan diciptakan untuk melakukan suatu pekerjaan. Apabila hati sakit maka ia tidak dapat melakukan pekerjaan dengan sempurna melainkan hanya akan menimbulkan kekacauan dan kegelisahan. Ciri hati yang tidak dapat melakukan pekerjaan ialah apabila ia tidak dapat berilmu, berhikmah, bermakrifat, mencintai Allah dengan menyembah-Nya, merasa erat dan nikmat mengingat-Nya.
Penderitaan seseorang ditimbulkan karena seseorang tersebut merasakan suatu keinginan atau dorongan yang tidak dapat diterima atau menimbulkan keresahan, gelisah, atau penderitaan itu sendiri. Dari hal tersebut setiap manusia selalu berusaha menjauhkan diri dari ruang lingkup kesadaran atau perasaannya.
Mengenal atau makrifat kepada Allah yang membawa semangat taat kepada Allah SWT dengan cara menentang hawa nafsu, merupakan obat untuk menyembuhkan penyakit dalam hati yang berupa penderitaan dan kegelisahan. Setiap penderitaan yang kita alami, sebagai seorang hamba yang beriman, hendaknya kita bertawakal dan berserah diri menyerahkan segalanya hanya kepada Allah SWT agar penderitaan yang kita alami cepat berakhir.

Sumber: exalute.wordpress.com